Peneliti: Para Imigran Justru Meningkatkan Ekonomi Eropa
Posted by @Editor on 22nd June 2018
| 21 views
In this photo taken on Wednesday, Aug. 10, 2016, migrants from Nigeria and Ivory Coast rest on a vessel after being rescued by a Migrant Offshore Aid Station, MOAS team in the central Mediterranean Sea, close to the Libyan territorial waters. (AP Photo/Manu Brabo)

Aktualpress.com —Para imigran pencari suaka yang masuk ke negara-negara Eropa justru telah meningkatkan ekonomi negara-negara tersebut, menurunkan angka pengangguran, dan tidak menjadi beban dalam keuangan publik. Demikian temuan dari para peneliti ekonomi Prancis, seperti dilansir dari Thomson Reuters Foundation.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di Science Advances pada Rabu (20/6/18) itu memaparkan analisis ekonomi dan data migrasi selama 3 dekade terakhir. Analisis menyebutkan, para imigran di Eropa telah meningkatkan produk domestik bruto (GDP) dan penerimaan pajak bersih sebanyak 1 persen.

Penemuan mengejutkan ini keluar di tengah sentimen anti-imigran yang mencuat di Eropa akhir-akhir ini, di mana jumlah imigran mencapai puncak pada 2015, dengan kedatangan lebih dari 1 juta pengungsi dari Timur Tengah dan Afrika.

Laporan dari Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi pada Selasa lalu menunjukkan bahwa angka pengungsi global meningkat 2,9 juta pada tahun 2017, sehingga total mencapai 25,4 juta.

“Sikap klise bahwa migrasi internasional diasosiasikan dengan ‘beban’ ekonomi kini dapat dihalau,” tulis peneliti dari French National Center for Scientific Research, Universitas Clermont-Auvergne dan Universitas Paris-Nanterre.

Para peneliti ini menganalisa data dari Austria, Belgia, Denmark, Finlandia, Prancis, Jerman, Islandia, Irlandia, Norwegia, Belanda, Portugal, Spanyol, Swedia, dan Inggris.

Kebanyakan konstribusi para pencari suaka ke negara-negara ini mengarah ke peningkatakn GDP setelah 3 sampai 7 tahun. Mereka pun membantu menurunkan pengangguran dan sama sekali tidak merugikan keuangan publik.

Profesor ekonomi dari Universitas Colagate, Chad Sparber, mengatakan bahwa studi tersebut merupakan peringatan bahwa tidak ada masalah ekonomi yang meyakinkan akibat dari migrasi kemanusiaan.

Meskipun begitu, Sparber mengakui bahwa tetap ada warga Eropa yang merasakan konsekuensi yang negatif akibat imigrasi.

“Ada orang yang memang merugi dan menderita,” katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Departemen Ekonomi dan Hubungan Sosial PBB memperkirakan, terdapat 258 juta orang di dunia yang berstatus imigran di negara lain pada tahun 2017. Angka ini memperlihatkan kenaikan 49% dari tahun 2000.

Dalam laporan yang dirilis pada Senin (18/12/17), disebutkan juga bahwa presentase imigran yang tinggal negara-negara maju meningkat dari 9,6% di tahun 2000 sampai 14% di tahun 2017.

Seluruh negara anggota PBB yang berjumlah 193, termasuk AS, mengadopsi Deklarasi New York untuk Pengungsi dan Imigran pada September 2016, yang menekankan bahwa tidak ada negara yang bisa mengatur migrasi internasional secara independen.

Negara-negara anggota ini setuju untuk mengimplementasikan kebijakan migrasi yang teratur dan membagi beban penerimaan pengungsi secara lebih merata. Selain itu, para imigran ini harus dilindungi hak-haknya dan dijauhi dari xenophobia dan intoleransi.

Menurut laporan ini, negara-negara maju menampung 64% imigran dari seluruh dunia di tahun 2017, yang berjumlah hampir 165 juta orang.

Dua pertiga imigran tinggal di 20 negara. Jumlah terbesar— 49,8 juta, atau 19% dari total imigran global— tinggal di AS.

Sementara itu, Arab Saudi, Jerman, Rusia, merupakan negara-negara berikutnya yang menampung imigran dengan jumlah terbesar. Urutan kelima dipegang oleh Inggris. (ra/mintpress)

SHARE THIS: