Nenek Rohingya: Kami Ingin Perdamaian
Posted by @Editor on 10th July 2018
| 83 views

Aktualpress.com—Gul Zahar adalah seorang nenek Rohingya yang telah mengalami penderitaan selama 40 tahun. Menjadi pengungsi di usianya ke 90, Gul Zahar telah mengalami persekusi di Myanmar sebanyak tiga kali sepanjang hidupnya: pertama di tahun 1978, lalu tahun 1991, dan terakhir tahun 2017.

Di usia setua ini, Gul mengakui bahwa ia sudah tidak lagi mengingat semua hal. Namun, dia memastikan tidak akan lupa kejahatan brutal yang dilakukan oleh tentara Myanmar kepada keluarganya selama puluhan tahun terakhir.

“Mereka memukul kami,” kata Gul, seperti dikutip oleh Al-Jazeera. “Mereka menculik kami, mereka memenjarakan kami.”

“Kami berjuang setiap hari, bertahan hidup dan berpindah-pindah tempat,” jelasnya sebelum terdiam lama. Matanya kemudian menatap jauh, wajahnya  memperlihatkan ekspresi menyakitkan.

Ketika ditanya apakah ia ingin pulang ke kampung halaman, Gul menjawab dengan sederhana: “Saya ingin meninggal ketika ada kedamaian. Saya ingin meninggal di tempat orangtua saya meninggal.”

Sudah lama ini, kasus Rohingya tidak juga terselesaikan. Baru-baru ini PBB menyampaikan keraguan jika komunitas Muslim Rohingya dapat kembali ke Myanmar di tengah kekerasan yang masih berjalan secara sistematis di negara itu.

Hal ini disebabkan pemerintah Myanmar tidak melakukan perbaikan dalam sistem hukum yang diskriminatif, yang dapat membuat kawasan Rakhine aman dan stabil.

“Mari bersama-sama ciptakan mekanisme yang bertanggungjawab… Ini saatnya bekerja daripada hanya bicara,” kata penyelidik HAM khusus PBB, Yanghee Lee, dalam sebuah konferensi pers di Dhaka pada Minggu (8/7/18).

Sebelum konferensi pers tersebut, Lee telah melakukan kunjungan ke kota pelabuhan Bangladesh, Cox’s Baza, selama 10 hari.

Dia melaporkan bahwa komunitas Rohingya sedang membutuhkan hak kesempatan dalam pendidikan, kebebasan untuk mendapatkan kebutuhan dasar, termasuk kebutuhan medis.

Pada Jumat lalu, organisasi Dokter untuk HAM (PHR) juga mengkonfirmasikan kejahatan brutal yang dihadapi para pengungsi Rohingya di kampung mereka di Myanmar.

Para pengungsi yang selamat kini tinggal di kamp pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh.

Mereka bercerita kepada dokter-dokter dari PHR tentang apa-apa yang mereka alami di tangan tentara militer Myanmar yang menghancurkan desa mereka.

Kepada Reuters, PHR meyakinkan bahwa seluruh korban yang terluka oleh tembakan atau pemboman didukung oleh bukti yang nyata.

Kelompok Muslim Rohingya telah menjadi korban operasi pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran oleh militer yang didukung oleh ekstrimis Buddha. PBB bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “contoh pembersihan etnis dalam buku pelajaran”.

Operasi brutal ini memaksa 700.000 warga Rohingya lari dari tempat tinggal mereka sejak Agustus 2017 dan menumpang di Bangladesh.

Komunitas yang telah tinggal di Myanmar selama bergenerasi ini ditolak kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar dan dicap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. (ra/presstv)

SHARE THIS: