IDF Ternyata Miliki Hak Sensor atas Media Israel
Posted by @Editor on 12th July 2018
| 54 views

Aktualpress.com– Di bawah pengakuan “satu-satunya negara demokratis” di Timur Tengah, militer Israel yang dikenal dengan nama IDF ternyata memiliki hak sensor atas media di negara itu.

Menurut laporan terbaru dari jurnalis Israel, Haggai Matar, yang bekerja di majalah online +972, IDF telah mengontrol konten pemberitaan dan menyembunyikan berita tertentu dari publik.

IDF diketahui terus menerus meningkatkan presentase artikel berita yang disensor, dengan menyunting seluruh atau sebagian dari artikel-artikel tersebut selama setahun terakhir. Tren ini kemungkinan tak akan menurun karena Israel tengah mempersiapkan potensi perang  dengan Gaza, Lebanon dan Suriah.

Laporan Matar yang menggunakan data dari pemerintah ini menemukan bahwa selama setahun terakhir terdapat 271 artikel yang dilarang oleh IDF. 2,358 disunting seluruhnya atau sebagian. Rata-rata, sensor IDF menyunting sebuah artikel berita setiap 4 jam, dan melarang sepenuhnya sebuah berita sebanyak 5 kali perminggu.

Padahal, Israel mengaku sebagai negara yang memiliki “kebebasan pers yang hidup, pluralis, dan secara umum terhormat”.

Sejak pendirian Israel tahun 1948, koran dan media tradisional lainnya di negara ini diwajibkan untuk menyerahkan semua artikel yang berhubungan dengan keamanan nasional dan hubungan luar negeri kepada badan sensor IDF sebelum dipublikasi.

Seperti yang dilaporkan oleh +972, “Israel adalah satu-satunya negara [demokrasi] di mana jurnalis dan penerbit harus menyerahkan tulisan mereka untuk diperiksa di IDF sebelum publikasi, dan satu-satunya di mana penyesoran dapat dipaksa secara keras.”

IDF juga diketahui punya kekuasaan untuk menyensor buku-buku dan terbitan lainnya.

Survei: Mayoritas Warga Israel Dukung Solusi Militer dengan Palestina

Sebuah survei terbaru menemukan bahwa sebanyak 65% warga Yahudi-Israel percaya bahwa Israel harus “menang dalam konfrontasi militer dengan Palestina” untuk mengakhiri konflik.

Survei ini dilakukan oleh Israel Victory Plan, kepada sampel acak 800 orang dewasa Yahudi di Israel.

Menurut hasil yang telah dirilis, 77 persen responden setuju bahwa dalam peperangan selanjutnya dengan Hamas atau Hezbollah, tentara Israel harus menang. Sebanyak 58% responden meyakini bahwa pengakuan kekalahan dari Palestina adalah kondisi yang dibutuhkan untuk mengakhiri konflik.

Di level politik, 59 persen warga Israel melihat Presiden AS Donald Trump sebagai presiden Amerika paling suportif kepada Israel, dibandingkan 25 persen yang mengaku khawatir jika Trump menyembunyikan motivasi tertentu di balik dukungannya.

Mengenai keputusan pemerintah AS dalam memindahkan kedubes ke Yerusalem, mayoritas warga Israel percaya bahwa isu Yerusalem adalah hambatan terbesar dalam konflik yang terjadi.

Menurut survei ini, 39% responden percaya bahwa negosiasi adalah cara terbaik untuk membuat Palestina mengakui Israel sebagai negara Yahudi. Dibandingkan dengan 28% dan 23% yang bahwa percaya bahwa cara terbaik adalah dengan menekan Palestina secara ekonomi. (ra/mintpress)

SHARE THIS: