Siapakah yang Dapat Keuntungan dari Penjualan Senjata Inggris?
Posted by @Editor on 21st July 2018
| 21 views

Aktualpress.com—Penjualan senjata Inggris kepada rezim-rezim seluruh dunia, terutama di kawasan Teluk Persia, merupakan kebijakan yang hanya menguntungkan porsi kecil dari populasi negara itu.

Analis politik Inggris, Rodney Shakespeare, memaparkan hal ini pada Kamis (19/7/18), dalam wawancara dengan Press TV.

Menurutnya, pemerintah London tidak memedulikan kepentingan publik melalui penjualan senjata yang tidak demokratis dan tidak bermoral itu.

“Faktanya, penjualan senjata hanya menguntungkan porsi kecil populasi di Inggris,” kata Shakespeare, sembari menambahkah bahwa kepentingan masyarakat akan dilayani jika Saudi dan Bahrain, dua pembeli utama senjata Inggris, merupakan “negara demokrasi yang sejati”.

Dia memaparkan, hubungan hangat antara Inggris dengan negara-negara seperti Saudi dan Bahrain murni ditujukan untuk melayani kepentingan pejabat pemerintah Inggris dan keluarga kerajaan “yang datang ke Saudi dan Bahrain untuk mendapat cincin emas dan sekotak perhiasan.”

Pemerintah Inggris, menurut Shakespeare, memiliki cara pikir yang kuno yang berhubungan dengan mental imperium mereka.

Dengan mental tersebut, Inggris memiliki tradisi mendukung elit lokal melawan aspirasi rakyat yang demokratis, seperti yang terjadi kepada Saudi, Bahrain dan di kawasan pendudukan Palestina.

“… Sayangnya, pemerintah kita memiliki cara pikir kuno yang dikontrol oleh Zionis,” sebutnya.

 

Inggris Jual Senjata di Timur Tengah Secara Sembunyi-Sembunyi

Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa Inggris telah menggunakan lisensi rahasia untuk menyembunyikan jumlah ekspor senjata ke negara-negara berkonflik di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Menurut laporan Middle East Eye(MEE) berdasarkan data dari Campaign Against Arms Trade (CAAT), Inggris menggunakan lisensi non-transparan itu untuk menghindari kecaman publik dan menyembunyikan kuantitas dan nilai senjata yang dijual.

Ekspor senjata bernilai $8,3 miliar per tahun bagi ekonomi Inggris.

Dari data yang dikumpulkan, jumlah lisensi rahasia yang digunakan dalam ekspor senjata meningkat dari 189 ke 230 dari tahun 2013 sampai 2017. Sementara jumlah item senjata yang mendapat izin di bawah lisensi-lisensi ini meningkat dari 1.201 ke 4.315 item.

Arab Saudi merupakan pembeli terbesar senjata Inggris di bawah sistem lisensi ilegal ini.

Padahal, senjata yang dibeli oleh Saudi digunakan dalam invasi ke Yaman dan telah menyebabkan 14.000 orang tewas.

Negara-negara lain yang mengimpor senjata dari Inggris di bawah lisensi rahasia ini adalah United Arab Emirates, Turki, Oman, Kuwait, Qatar, Israel, Egypt, Yordania, Bahrain, Algeria dan Irak.

“Peningkatan penggunaan lisensi ini seharusnya membuah semua orang khawatir. Itu memperlihatkan bahwa pemerintah ingin membuat industri tidak jujur menjadi semakin tertutup dan rahasia,” kata juru bicara CAAT, Andrew Smith.

Inggris merupakan negara eksportir kedua terbesar di dunia.

Organisasi amal War Child UK melaporkan, perusahaan senjata seperti BAE Systems dan Raytheon dilaporkan telah mendapat profit £600 juta, dari pembunuhan terhadap lebih dari 12.000 rakyat Yaman sejak dua setengah tahun lalu.

Organisasi ini juga melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut “mendapat uang dari kematian anak-anak tak bersalah” dengan menyuplai jet militer kepada Saudi.

“Kita semua menginginkan perdagangan internasional yang produktif, tapi [penjualan] ini merusak,” kata Rocco Blume, penasehat konflik dan kemanusiaan War Child kepada media Inggris.

Blume mengatakan, tidak adanya tranparansi dalam perusahaan Inggris ini membuat mereka tidak dapat berperan dalam melindungi anak-anak di konflik seperti Yaman, Suriah, dan Irak.  (ra/presstv)

SHARE THIS: