‘CIA Terlibat Dalam Upaya Pembunuhan Presiden Venezuela’
Posted by @Editor on 7th August 2018
| 127 views

Aktualpress.com–Badan Intelijen Pusat (CIA) AS terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Demikian kata seorang ahli perlawanan terorisme, Scott Bennett, dalam wawancara dengan Press TV.

Upaya pembunuhan pada Sabtu (4/8/18) lalu itu terjadi ketika Maduro tengah memberikan pidato di sebuah acara militer di ibukota Caracas. Acara yang ditayangkan di televisi itu diberhentikan setelah terdengar sebuah ledakan dari atas, yang diduga merupakan drone berbahan peledak.

Maduro kemudian menyalahkan Kolombia atas serangan tersebut.

“Saya tidak ragu bahwa nama (Presiden Kolombia) Juan Manuel Santos berada di belakang serangan ini,” tegasnya.

Beberapa jam setelah kejadian, Penasehat Keamanan Nasional AS, John Bolton, buru-buru menyangkal keterlibatan AS.

Menurut Scott Bennet, serangan tersebut hanyalah langkah lain dari CIA untuk mendorong agenda perang politik mereka di kawasan.

“Saya pikir jika kita melihat ini lebih dalam, kita akan lihat faktanya ini adalah sebuah upaya teroris oleh aktor tertentu di dalam CIA, dari dalam Kolombia, [sebuah pihak] kanan yang ekstrem yang menargetkan Maduro,” paparnya.

“Ini menjadi konfirmasi lain bahwa CIA AS adalah elemen penipu, operasi intelijen penipu yang mencoba mendorong AS ke peperangan politik yang sembrono,” catatnya.

Bennet menilai jika Maduro dapat mengungkap para aktor, asal mereka, dan metodologi mereka, dia akan semakin banyak mendapati hubungan langsung dengan komunitas intelijen CIA dan elemen pemberdaya lain yang digunakan AS kepada Venezuela.

Menurutnya, pemerintah Venezuela dapat mengungkap kejahatan ini dari beberapa detil utama seperti dengan melacak drone dan jalur penerbangannya, akun bank, dan jalur keuangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam serangan.

 

Rencana AS untuk Jatuhkan Rezim di Kuba, Nikaragua dan Venezuela

Wakil Presiden AS, Mike Pence, menyatakan bahwa pemerintah Donald Trump saat ini memprioritaskan “pembebasan” di Kuba, Nikaragua, dan Venezuela. Ketiga negara ini memiliki pemerintahan progresif di kawasan.

Hal ini disampaikan Pence dalam acara pengambilan sumpah duta AS untuk Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS) yang baru, Carlos Trujillo.

“Kita akan berada di sisi mereka yang mendambakan kebebasan dan kami akan melawan penindas mereka,” tegasnya.

Dalam pidatonya itu, Pence menyebut masyarakat Kuba hidup “di bawah warisan tirani,” sebuah terminologi yang sering digunakan oleh kelompok sayap-kanan Amerika-Kuba terhadap pemerintah komunis Kuba.

Mengenai Nikaragua, Pence menuduh pemerintah Daniel Ortega “menindas secara brutal” para demonstran damai. Tuduhan itu biasa dipakai oleh pemerintah AS dan sekutunya untuk menjustifikasi intervensi ke suatu negara meski tidak ada bukti yang kuat atas klaim itu.

Berbicara tentang Venezuela, Pence menyebut Presiden Nicolas Maduro seorang “diktator” yang membuat negaranya yang dulu merupakan “salah satu negara terkaya di Amerika Selatan menjadi salah satu yang termiskin.”

Selama bertahun-tahun, AS terus menerus melakukan serangan secara ekonomi dan politik kepada ketiga negara ini dengan tujuan penggulingan rezim.

Sejak 1960, pemerintah AS menjatuhkan embargo ekonomi kepada Kuba. Pada 1980-an, Presiden AS Ronald Reagan mulai mendanai kelompok militer di Nikaragua bernama Contras. Sedangkan pada 2015, Obama mendeklarasikan Venezuela sebagai “ancaman bagi keamanan nasioanal” dan menjatuhkan sanksi dan pengasingan diplomatik.

Pada awal tahun ini, mantan menlu AS Rex Tillerson juga mengisyaratkan sebuah kudeta militer di Venezuela.

Duta AS untuk OAS yang baru, Trujillo, mengumumkan pada minggu lalu bahwa akan ada pertemuan OAS yang membicarakan situasi di Venezuela.

“Kita bisa mencapai itu [perubahan rezim] dengan mengeluarkan sebuah resolusi yang mengecam  Venezuela karena tidak menerima bantuan kemanusiaan. Itu adalah langkah pertama,” tutur Trujillo. (ra/presstv)

SHARE THIS: