Rezim Israel Ketatkan Blokade Terhadap Jalur Gaza
Posted by @Editor on 20th August 2018
| 22 views

Aktualpress.com—Rezim Israel mengetatkan blokade di kawasan pendudukan Jalur Gaza dengan menutup jalur perbatasan khusus pejalan kaki.

Dalam sebuah pernyataan pada Minggu (19/8/18), rezim Tel Aviv mengkonfirmasikan kebijakan baru mereka untuk menutup jalur perbatasan Erez. Jalur ini merupakan satu-satunya jalur pejalan kaki untuk memasuki Jalur Gaza.

Perbatasan Erez yang berada di sepanjang bagian utara kawasan pendudukan Jalur Gaza Strip, seringkali digunakan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada penduduk Palestina.

Rezim Israel sudah berkali-kali menutup perbatasan ini dan menolak pengiriman bantuan kemanusiaan dan barang-barang lain ke Gaza.

Mesir, sebagai satu dari dua negara Arab yang memiliki hubungan terbuka dengan Israel, juga telah membantu memblokade seluruh kawasan Gaza, termasuk dengan menutup perbatasan Rafah.

Menurut klaim Menteri Hubungan Militer Israel, Avigdor Liberman, kebijakan baru ini berhubungan dengan “peristiwa kekerasan yang terjadi di perbatasan pada Jumat lalu.” Peristiwa kekerasan yang ia maksud adalah demonstrasi pada Jumat (17/8/18) yang diikuti oleh sekitar 20.000  warga Gaza.

Pegawai medis mengatakan, dalam demo tersebut terdapat 2 warga Palestina yang terbunuh karena tembakan tentara Israel, dan melukai setidaknya 270 lainnya.

Ketegangan di perbatasan Gaza telah terjadi sejak 30 Maret, ketika warga Palestina menggelar demo untuk menuntut “hak untuk kembali” bagi warga Palestina yang telah terusir dari tanah mereka akibat penjajahan.

Penulis Norman Finkelstein dalam wawancara di program ‘Going Underground’ RT menyebut Gaza sebagai “penjara terbuka” yang tengah berada di “ambang kehancuran” dan tak layak ditinggali oleh warga Palestina.

Finkelstein, yang merupakan penulis buku ‘Gaza: An Inquest into its Martyrdom,‘ menilai bahwa kawasan Palestina itu “tak dapat lagi dikembalikan seperti semula”

“Tujuh puluh persen rakyat Gaza adalah pengungsi. Lebih dari setengahnya adalah anak-anak. Mereka terperangkap, tidak ada jalan kaluar,” ucapnya kepada pembawa acara Afshin Rattansi.

“95% air di Gaza tidak layak untuk konsumsi manusia. Setiap hari, di saat seorang anak meminum air, anak itu meracuni diri sendiri, namun mereka tidak bisa meninggalkan tempat itu. Mereka dipenjara. Seperti yang disebutkan oleh mantan Perdana Menteri David Cameron, Gaza adalah ‘penjara terbuka’.” paparnya.

Menurut Finkelstein, perbedaan antara Gaza dan kawasan lain di dunia, adalah bahwa  penduduk di kawasan lain “punya pilihan untuk untuk mengungsi” ketika menghadapi situasi yang buruk. Contohnya adalah warga sipil Suriah yang bisa meninggalkan negara mereka ketika terjadi perang.  (ra/presstv)

SHARE THIS: