AS Tuding Rusia, Cina, Korut, dan Iran Akan Intervensi Pemilu 2018
Posted by @Editor on 21st August 2018
| 27 views

Aktualpress.com–Pemilu AS pada tahun ini kemungkinan akan diintervensi oleh negara-negara seperti Rusia, Cina, Korea Utara, dan Iran. Demikian kata Penasehat Keamanan Nasional John Bolton, tanpa memberikan bukti apapun.

“Saya dapat katakan secara definitif bahwa ini adalah urusan keamanan nasional yang tengah kami coba cegah, yaitu campur tangan dari Cina, Iran, dan Korut. Jadi ini benar-benar mengenai 4 negara ini,” kata  Bolton dalam wawancara dengan program ‘This Week’ pada Minggu (19/8/18)

Pernyataan ini dikatakan Bolton ketika ditanyai penjelasan mengenai tweet Presiden AS Donald Trump yang berisi kritikan sang presiden kepada “orang-orang bodoh” yang hanya menyalahkan Rusia atas intervensi pemilu, padahal terdapat ancaman juga dari Cina.

Ketika ditanya apakah sebenarnya yang dilakukan Cina atas pemilu AS di masa lalu, Bolton menghindari pertanyaan, dan hanya meyakinkan si wartawan bahwa 4 negara ini merupakan ancaman bagi negara.

“Saya kayakan kepada Anda, untuk pemilu 2018, empat negara itu paling mengkhawatirkan bagi kami,” tegas Bolton.

Dengan pemilu November semakin dekat, histeria isu intervensi pemilu semakin kuat di antara para pejabat dan figur publik Amerika. Misalnya, Direktur Intelijen Nasional Dan Coat mengklaim Rusia tengah mengupayakan peretasan dalam pemilu. Aktivis dan aktris sayap kiri, Alyssa Milano, menyalahkan Rusia atas kekalahan Demokrat di Ohio, dan sebagainya.

Selain Rusia, Iran pun dituduh tengah menyupauakan pencurian dokumen-dokumen rahasia. “Tentara peretas” dari Korut dituding sedang bekerja untuk negara mereka. Sedangkan beberapa politisi menuduh Cina memiliki “strategi jangka panjang untuk menggantikan AS sebagai nagara paling kuat dan berpengaruh di dunia.”

 

AS Sendiri Pengaruhi 81 Pemilu Luar Negeri

Direktur FBI James Comey pada Senin lalu mengonfirmasikan kepada publik bahwa FBI resmi melakukan investigasi atas dugaan interfensi Rusia dalam pemilihan presiden AS. Namun, meski tuduhan tersebut nantinya terbukti benar, dokumen dari pemerintah AS mengungkapkan bahwa AS sendiri telah menginterfensi pemilu di negara asing sebanyak 81 kali.

81 interfensi pemilu oleh AS tercatat dilakukan selama tahun 1964 sampai 2000, dengan sepertiga diantaranya dilakukan secara terang-terangan.

Peneliti dari Institut Politik dan Strategi Universitas Carnegie Mellon, Dov Levin, membicarakan interfensi pemerintah AS ini dengan kantor berita NPR. Levin mengatakan,

“Salah satu contohnya adalah interfensi AS di pemilu presiden Serbia, Yugoslavia pada tahun 2000. Slobodan Milosevic mencalonkan diri kembali di pemilu tersebut, dan pemerintah AS tidak mau dia kembali berkuasa karena kecenderungannya untuk menjatuhkan Balkans karena kasus HAM mereka.

Jadi AS menginterfensi dengan berbagai cara untuk memenangkan kandidat lainnya, Vojislav Kostunica. AS mendanai kampanye dan memberikan pelatihan kepadanya, dan berdasarkan perkiraan saya, bimbingan seperti itu krusial dalam memenangkan pihak oposisi.”

Levin juga menjelaskan cara-cara lebih ekstrem yang dilakukan AS seperti menciptakan kudeta di tengah rakyat suatu negara.

Levin menambahkan, meski Rusia dan negara kuat lainnya secara umum melakukan taktik interfensi yang sama, AS termasuk paling hebat dalam mengupayakan pengaruh mereka dalam pemilu negara-negara dunia.

Ketika politisi AS terus menerus mengecam Rusia, mereka lupa bahwa pada tahun 1996, AS pernah melakukan operasi rahasia untuk memastikan Bosris Yeltsin berkuasa di Rusia. (ra/rt)

SHARE THIS: