17 Tahun Setelah 9/11, AS Putuskan untuk Bersekutu dengan Al-Qaeda
Posted by @Editor on 13th September 2018
| 52 views

Aktualpress.com–Tujuh belas tahun setelah serangan teror 9/11, pemerintah AS dan kantor media Amerika memutuskan bahwa Al-Qaeda kini adalah kelompok “pemberontak” yang layak menerima simpati publik, demikian kata para pengamat kepada RT.

Kelompok teroris yang menewaskan ribuan warga  Amerika 17 tahun lalu itu kini menguasai timur laut Suriah. Pemerintah AS pun mengancam akan mengambil opsi militer jika “pemberontak” ini diusir oleh tentara Suriah dan sekutunya dari Idlib.

AS telah menghabiskan sekitar $1,5 triliun untuk menumpas Al-Qaeda pasca serangan 9/11. Namun, menurut para pengamat, kini Negeri Paman Sam itu malah membantu kelompok ini lewat jalur diplomatik dan peliputan media.

Menurut mantan pejabat Pentagon, Michael Maloof, meski media sosial dipenuhi tagar dan GIF bertuliskan “Jangan Lupa” atas serangan 9/11, salah satu alasan Al-Qaeda tetap bisa bertahan di Idlib adalah karena warga Amerika sebenarnya sudah lupa.

“Waktu banyak berlalu sejak 9/11. Mereka menangkap Osama bin Laden dan rakyat mulai lupa, mereka punya masalah lain untuk diperhatikan,” catat Maloof dalam wawancara kepada RT.

Menurutnya, banyak warga Amerika yang tertarik dengan isu domestik seperti kolusi Rusia daripada Al-Qaeda dan Suriah, “sampai di titik di mana pemerintah Trump dapat menyalurkan bantuan ke Al-Qaeda di Suriah. Dan itu sangat tragis.”

 

‘Israel Rancang 9/11 untuk Sebarkan Islamophobia’

Serangan  11 September 2001 merupakan bagian dari proyek  Islamophobia yang dirancang oleh Israel. Proyek ini dibuat dalam rangka menggantikan komunisme dengan “terorisme Islam” sebagai ancaman global baru yang dapat melancarkan agenda Tel Aviv dan sekutunya.

Pernyataan di atas diucapkan oleh Kevin Barrett, seorang analis politik asal Madison, Wisconsin, AS, dalam wawancara dengan Press TV mengenai ancaman terhadap Muslim AS di bawah pemerintahan Donald Trump.

Sebelumnya, sebuah studi dari The Pew menunjukkan bahwa hampir tiga perempat Muslim AS melihat Trump tidak bersahabat dengan mereka.

65% Muslim seperti wanita berhijab melaporkan pernah mendapat perilaku diskriminasi, ancaman, atau dipanggil dengan sebutan menghina.

“Trump masuk ke Gedung Putih di atas gelombang Islamophobia yang ia besarkan,” kata Barrett. “Islamophobia seperti ini telah menjadi basis kohesi politik Amerika sejak serangan 11 September 2001.”

Barret manilai bahwa sekutu terbesar AS, Israel, telah merancang kejadian 9/11 dan membuat itu sebagai alasan menggantikan komunisme dengan terorisme Islam sebagai “musuh masyarakat terbesar selanjutnya.”

Israel menurutnya adalah “penerima manfaat terbesar” dari tren Islamophobia.

Selain itu, Barret juga mengatakan bahwa Trump, meski dia tidak tahu menahu tentang hubungan internasional, namun dia punya “intuisi kuat” dalam kebijakan populis. Dia tahu bahwa pendekatan Islamophobia akan memikat pemilih Amerika. (ra/rt)

SHARE THIS: