Sel Mewah Dan Efek Tidak Jera Para Koruptor
Posted by Lestari on 17th September 2018
| 102 views

AktualPress.com – Baru-baru ini beredar kabar sekaligus bukti bahwa Setya Novanto, terpidana kasus korupsi proyek e-KTP menempati sel mewan di Lapas Sukamiskin Bandung, alih-alih sebelumnya ia mengatakan bahwa ia menempati sel biasa seperti tahanan lainnya. Namun ternyata, itu adalah sel palsu untuk membohongi publik selama ini.

Bukti tersebut berhasil didapatkan oleh Ombudsman yang telah berhasil melakukan sidak beberapa hari lalu. Sel mewah yang dihuni Setya Novanto berisi perabotan lengkap dan rapi, ranjang berkasur mewah, dan toilet duduk lengkap dengan shower di dalamnya. Dinding kamar tersebut pun dilapisi plywood.

Di sisi lain, Ketua Lapas Sukamiskin membenarkan kondisi kamar Setya Novanto yang kerap disapa Setnov tersebut. Tejo Harwanto yang menjadi Kalapas Sukamiskin baru setelah Kalapas sebelumnya diciduk KPK mengatakan bahwa sejak awal dirinya bertugas, kondisi kamar Setnov sudah seperti itu. Dinding kamar memang sudah tidak bagus, sehingga harus dilapisi plywood. Kemudian untuk persoalan Kasur dan perabotan lain, adalah inisiatif sendiri bagi para terpidana karena pihak Lapas tidak memiliki dana untuk membenahinya secara merata.

Tejo berkeinginan untuk meminta anggaran dana khusus untuk memperbaiki Lapas sehingga seluruh kamar sama dan layak huni, sehingga tidak ada yang tidak adil bagi seluruh terpidana.

“Untuk mengubahnya, anggaran tidak ada. Untuk perawatan saja tidak ada anggaran. Makanya saya minta anggaran di tahun 2019 nanti.”

Ia juga menambahkan bahwa jika ada anggaran, toilet duduk akan diadakan untuk semua kamar agar tidak ada diskriminasi, sehingga kesehatan para napi tidak terganggu.

Melihat hal di atas, bagaimana para koruptor bisa jera dengan sikap mereka yang merampas uang rakyat untuk keuntungan pribadi mereka? Lapas seharusnya menjadi tempat terburuk yang memberikan efek jera agar mereka tidak bertindak lagi setelah masa tahanan selesai. Jika kondisi kehidupan di dalam Lapas saja enak dan mewah, mereka justru senang dan tidak merasakan sebuah hukuman yang menjerakan. Akibatnya, setelah keluar dari Lapas, mereka akan melakukan korupsi lagi dan lagi.

Apakah benar keinginan untuk memperbaiki kamar Lapas dengan dalih agar layak huni? Apakah benar keputusan untuk membebaskan para terpidana untuk mendesain sendiri ruangan tidur mereka di Lapas? Kiranya ini harus menjadi bahan perbincangan secara jelas, agar jumlah para koruptor di Indonesia tidak bertambah dari tahun ke tahun. (AL)

SHARE THIS: