Rupiah Terkapar di Posisi Rp 15.218 per Dolar AS
Posted by redaksi2 on 9th October 2018
| 12 views

AktualPress.com— Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi hingga ke posisi Rp 15.218 pada perdagangan Senin (8/10) sore. Posisi tersebut melemah 34 poin atau 0,23 persen dari akhir pekan lalu di posisi 15.183 per Dolar AS.

Menurut Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim, rupiah anjlok karena tekanan dari sentimen eksternal. Pertama, AS berhasil menurunkan tingkat penganggurannya. Tingkat pengangguran hanya 3,7 persen pada September 2018.

“Rilis ketenagakerjaan ini bisa memicu bank sentral AS, The Federal Reserve untuk kembali menaikkan bunga acuannya sebanyak satu kali di akhir tahun, tiga kali di tahun depan, dan satu kali pada 2020,” kata dia, Senin (8/10).

Kedua, sentimen kebijakan bank sentral Cina, People’s Bank of China yang memotong rasio cadangan wajib sebesar satu persen untuk penyimpanan renminbi mulai 15 Oktober mendatang. Hasil pemotongan tersebut akan digunakan untuk membayar fasilitas kredit jangka menengah sebesar 450 miliar Renminbi.

Selain itu, likuiditas akan disuntikkan ke pasar senilai 750 miliar renminbi untuk mendukung sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perusahaan swasta, dan industri kreatif sebagai upaya meningkatkan ketahanan perekonomian China. Artinya, cadangan rasio wajib bank China sudah empat kali dipangkas. Hal ini akan memberikan sentimen terhadap penguatan dolar AS.

Ketiga, sentimen dari benua Eropa, yaitu terkait kondisi defisit anggaran Italia yang melebihi ekspektasi Komisi Eropa dan pasang surut keluarnya Inggris dari zona Eropa.

Di sisi lain, dari dalam negeri tidak ada sentimen positif yang dapat mendukung apresiasi rupiah. Bahkan, menurutnya, sentimen yang ada justru mendukung depresiasi rupiah, seperti cadangan devisa (cadev) Indonesia kembali merosot sekitar US$3,1 miliar menjadi US$114,8 miliar pada Agustus 2018. Selain itu, belakangan ini pemerintah dan BI pun tidak memberikan internvensi yang nyata.

Dia menilai, pemerintah seharusnya sudah mulai mengambil langkah tegas untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi untuk mengimbangi tekanan rupiah dari besarnya impor minyak mentah. Apalagi di saat bersamaan, harga minyak mentah dunia terus menguat.

“Memang mungkin yang dipertimbangkan pemerintah karena mulai Oktober 2018 sampai April 2019 sudah mulai masuk masa kampanye, sehingga harus hati-hati menaikkan BBM. Kalau tidak bisa dijadikan alat serang oleh kubu oposisi,” paparnya. (Sihab/cnn)

 

 

SHARE THIS: