Konsulat Israel Kritik Jurnalis AS tentang Berita Gencatan Senjata di Gaza
Posted by @Editor on 17th November 2018
| 49 views

Aktualpress.com–Seorang jurnalis Amerika yang mengkritik sensor media New York Times atas artikel beritanya mengenai agresi Israel di Gaza, baru-baru ini masuk ke dalam perdebatan panas di Twitter dengan konsulat Israel.

Pada hari Senin (12/11/18) lalu, sebuah akun Twitter bernama “Editing The Gray Lady” yang mencatat suntingan-suntingan di NYT, suatu hari melaporkan  bagaimana media ini mengubah judul dan isi berita tentang kejadian di Gaza.

Ben Norton, jurnalis dari The Real News pun mengomentari hal ini dengan menulis “propaganda yang luar biasa”.

“[NYT] mundur ke belakang dan menyunting artikelnya sendiri untuk menghapus laporan tentang bagaimana Israel memulai kejahatan di Gaza, [mereka] mengaburkan fakta bahwa pertahanan diri Gaza merupakan bentuk  ‘pembalasan’….,” tulisnya.

Ternyata, tweet Norton ini mendapat perhatian dari konsulat Israel di New York.

“Tidak ada yang namanya ‘pembalasan’ tentang serangan roket #Hamas,” tulis konsulat Israel dalam akun Twitter resmi mereka. “Serangan kami dilakukan sebagai *respon* atas agresi dari para teroris. Jangan asal bicara. #IsraelUnderFire #IsraelUnderAttack #FreeGazaFromHamas.”

Norton pun merespon kritikan tersebut dengan memberikan garis waktu kejadian serangan-serangan di Gaza untuk membuktikan dia tidak “asal bicara”

“Jika propaganda stasiun TV dari kelompok teroris Hamas adalah sumber beritamu, kami paham ‘jurnalis’ macam apa Anda,” balas konsulat.

“Mengebom sebuah stasiun TV berita adalah kejahatan perang, bahkan jika Anda tidak suka jurnalis yang bekerja di sana,” komentar  Norton, merujuk ke peristiwa pengeboman Al-Aqsa TV milik Hamas pada hari Senin lalu.

Ini bukan pertama kalinya diplomat Israel masuk ke Twitter untuk mendebat jurnalis yang melaporkan konflik di Gaza. Pada Agustus lalu, jubir menlu Israel Emmanuel Nahshon menuduh BBC telah berbohong tentang kejadian di Gaza dan menuntut media Inggris itu untuk mengubahnya SECEPATNYA.”

Pada Juli, Nahshon juga mengkritik CNN International atas laporan mereka dengan menulis HENTIKAN MANIPULASIMU.”

Hamas dan Israel telah mengisyaratkan selama beberapa bulan terakhir tentang kemungkinan perang antara Gaza dan Israel.

Mengutip perkataan pejabat Hamas, kemungkinan perang baru dengan Israel pada tahun 2018 ini mencapai  “95 persen”.  Hal ini juga disampaikan oleh petinggi IDF, Gadi Eizenkot, yang menyatakan bahwa pernyerbuan Israel ke Gaza sangat mungkin terjadi tahun ini.

Ironisnya, Eizenkot menyebut perang ini mereka lakukan untuk “mencegah keruntuhan kondisi kemanusiaan” di  Gaza. Ia mengklaim, aksi militer terhadap sipil dan infrastruktur di Gaza  akan memperbaiki kehidupan penduduk di kawasan itu.

Mengenai situasi kemanusiaan di Gaza, Israel merespon isu tersebut dengan tidak biasa.

Krisis di Gaza menjadi topik artikel dari berbagai media Israel yang meyakinkan bahwa situasi seperti itu “berita bohong.” Media-media tersebut mulai menciptakan teori konspirasi sejak awal tahun ini, dengan menyalahkan militer Israel karena mempropagandakan “mantra jahat”.

Media-media ini mengklaim bahwa isu krisis kemanusiaan ini dipalsukan oleh Hamas supaya mendapat fasilitas gratis dari pemerintah Israel.

Menurut jurnalis dan penulis Whitney Webb, menyebarnya teori-teori semacam itu meski telah ada bukti nyata dan jelas tentang situasi buruk di Gaza, juga langkah Israel dalam mempererat blokade, memperlihatkan bahwa kebijakan Israel terhadap kawasan pendudukan tidak mungkin mereda kapanpun dan bahkan mungkin memperparah.

Sejak Mei 1948 hingga kini, tercatat sekitar 760.000 warga Palestina, dan hampir 5 juta keturunan mereka terusir dari tempat tinggal mereka. (ra/rt)

 

SHARE THIS: